Di tengah tren digitalisasi pendidikan yang mewajibkan penggunaan perangkat pintar di dalam kelas, sebuah keputusan kontroversial justru diambil oleh manajemen sekolah di Blitar. Instruksi tegas untuk Stop Pakai Tablet di area belajar mengajar sempat mengejutkan para orang tua dan pengamat pendidikan yang menganggap teknologi adalah kunci utama kemajuan. Namun, keputusan ini diambil berdasarkan evaluasi mendalam terhadap penurunan daya konsentrasi dan kemampuan berpikir kritis siswa akibat ketergantungan pada gawai. Sekolah merasa bahwa penggunaan tablet sering kali justru menjadi distraksi dibandingkan menjadi alat bantu belajar yang efektif bagi anak usia remaja.
Keputusan mengenai Mengapa SMPN 4 Blitar melakukan langkah ini didasari oleh keinginan untuk mengembalikan marwah pendidikan sebagai proses olah pikir yang mendalam. Mereka melihat bahwa kemudahan akses informasi melalui mesin pencari membuat siswa cenderung malas untuk melakukan analisis mandiri. Informasi yang didapat terlalu instan sehingga tidak mengendap menjadi pengetahuan jangka panjang. Dengan menanggalkan gadget, sekolah ingin memaksa siswa untuk kembali berinteraksi dengan buku teks fisik, melakukan diskusi tatap muka yang intens, dan mengasah kemampuan motorik melalui tulisan tangan yang terbukti secara neurologis lebih baik untuk stimulasi otak.
Model pembelajaran baru yang diterapkan ini disebut sebagai ‘Deep Learning’ yang mengutamakan kualitas pemahaman daripada kuantitas materi yang dihafal. Dalam sistem ini, siswa didorong untuk mengkaji satu topik secara menyeluruh dari berbagai sudut pandang melalui literatur fisik yang tersedia di perpustakaan. Tanpa gangguan notifikasi media sosial atau godaan untuk sekadar “copy-paste” dari internet, siswa menjadi lebih fokus dan tenang dalam mengikuti pelajaran. Proses belajar menjadi lebih manusiawi, di mana interaksi antara guru dan murid menjadi lebih hidup karena perhatian semua orang tertuju pada topik pembicaraan di dalam kelas, bukan pada layar masing-masing.
Penerapan sistem Tanpa Gadget ini ternyata memberikan dampak positif yang cukup signifikan terhadap kesehatan mental dan kemampuan sosial siswa. Angka kasus perundungan siber di lingkungan sekolah menurun drastis, dan siswa terlihat lebih aktif bergaul di dunia nyata saat jam istirahat. Kemampuan mereka dalam berargumentasi secara lisan pun mengalami peningkatan karena mereka terbiasa untuk berpikir sebelum berbicara tanpa bantuan bantuan asisten digital. Orang tua yang awalnya ragu kini mulai melihat anak-anak mereka menjadi lebih sabar dan memiliki ketahanan fokus yang lebih baik saat mengerjakan tugas-tugas rumah yang bersifat analitis.
